Selembar Kertas Ijasah Hanya bisa Mengantar Sampai Ruang HRD Saja

Dunia kerja tentu sangat berbeda dengan saat-saat di bangku perkuliahan. Awal masuk kuliah di universitas impian yang menjadi kenyataan itu menyenangkan. Dari yang tadinya seorang siswa bertambah title dengan kata maha. Ya, Mahasiswa.

Satu angkatan di perkuliahan bisa dibilang tidak hanya kelahiran tahun 90, 91, 92, dst. Bahkan ada yang jauh di atas itu. Ragam budaya juga mewarnai kehidupan seorang mahasiswa. Hari demi hari berganti tidak terasa di atas kepala sudah ada topi toga.

Rasa bangga yang dahulu diterima di universitas impian, kini rasa itu telah berubah. Bangga ternyata bukan ketika baru diterima dan belum menjalani proses, tapi ketika sudah berhasil melewati segenap proses lalu dinyatakan lulus sebagai seorang alumni.

Di tangan kini ada selembar kertas yang bertuliskan kata ijasah. Isinya tidak lebih dari deretan huruf dan angka sebagai pengingat perjuangan masa-masa perkuliahan di masa lalu. Ada mata kuliah yang dapat A, C+, B, dan seterusnya.

Masuk dunia kerja kata orang dengan selembar kertas ijasah saja cukup dan bisa jadi kunci keberhasilan agar mendapatkan pekerjaan impian. Bermodal laptop dan koneksi wi-fi. Dengan bantuan mbah Google dan website-website yang memberikan informasi lowongan tenaga kerja.

CV, surat lamaran, beserta ijasah sudah dimiliki. Berharap perusahaan bonafit mau menerima dan membayar gaji tinggi seorang anak fresh graduate. Setelah pengajuan dan submit lamaran kerja sana-sini. Tapi tidak ada perusahaan yang kunjung melakukan panggilan.

Ternyata ijasah dari universitas terbaik pun tidak bisa memberikan kepastian diterima pada lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan. Malah sebuah tiket nonton bioskop lebih memberikan kepastian dibandingkan selembar kertas ijasah.

Banyak mahasiswa yang ketika diberikan selamat “Welcome to the real world”. Tidak mempersiapkan mental dengan baik. Ia berpikir ijasah saja sudah cukup. Tapi nyatanya tidak demikian. Selembar kertas ijasah, CV, dan surat lamaran ternyata hanya mampu mengantarkan Anda sampai ruangan HRD.

Selebihnya attitude, skill, dan knowledge beserta doa Anda dan orangtua yang berperan. Diterima atau tidak memang itu kehendak dari-Nya. Tapi kalau tidak diterima-terima juga dalam kurun waktu yang lama, jangan-jangan ada yang salah dengan niat dan ikhtiar-nya.

Cek lagi apakah Anda sudah memiliki value yang membuat orang lain tertarik dengan diri Anda? Jika Anda sudah memiliki value lantas mengapa Anda tidak kunjung mendapatkan pekerjaan? Banyak orang yang pintar, cerdas, punya kemampuan tapi kalau berbicara selalu sinis. Berpikirnya sinis bukan berpikir kritis. Pola pikirnya malah destruktif bukan konstruktif.

Pada akhirnya orang-orang seperti ini akan sulit diterima oleh orang lain. Di dunia kerja, keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai visi misi itu bukan karena usaha satu dua orang. Tapi usaha dari keseluruhan sumber daya manusia yang ada di dalamnya.

Banyak mahasiswa yang baru lulus pada saat masa perkuliahan, mereka berpikir bahwa kompetisi hanya ada di dalam kelas, antar fakultas, atau hanya menjadi terbaik di universitas tempat ia studi. Padahal kompetisi sesungguhnya baru bisa dirasakan setelah berbaur dengan lingkungan yang lebih besar dari lingkungan kampus.

Di sisi lain ada sebagian kecil mahasiswa yang mempersiapkan masa depannya dengan baik. Ia punya target, impian, visi yang jauh kedepan dan dibangun pada masa-masa kuliah. Visi kehidupan yang jelas. Dan jika ditanya setelah lulus mau jadi apa ia akan cepat menjawab dengan lantang.

Ketika ditanya pertanyaan berikut ini, ia akan menjawab dengan tegas dan lantang. Tanpa dibuat-buat karena sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum datang hari kelulusan. Hari kelulusan disebut hari wisuda, ada juga yang memplesetkan menjadi wis-udah (selesai kuliahnya).

Pertanyaannya yaitu:

1. Apa impian Anda…
2. Mau jadi apa Anda di masa depan….
3. Apa expertise Anda…
4. Apa langkah-langkah mencapai impian Anda…
5. Apa kontribusi terbaik yang pernah Anda lakukan untuk orang lain…
6. Apa hal yang paling Anda syukuri…
7. Ingin dikenang sebagai apa jika Anda sudah meninggal…

Saat ini jika saya bertanya ketujuh hal di atas kepada Anda apakah Anda mampu menjawabnya tanpa terbata-bata? Jika hari ini Anda masih diberikan kesempatan untuk menjalankan masa-masa kuliah. Kuliah jangan hanya cari IPK tinggi, IPK tinggi itu keharusan sebagai hadiah untuk orang tua.

Tapi jangan lupa asah kemampuan kepemimpinan dengan ikut organisasi, public speaking, bisnis, networking, dan kegiatan positif lainnya. Semakin besar tanggung jawab yang berani Anda ambil, semakin besar peluang Anda untuk menjadi orang besar di hari kemudian.

Ketika datang rasa lelah, cape, stres. Cukup istirahat, liat kebelakang sejenak dan pikirkan seberapa jauh kaki Anda telah melangkah. Jika jalan yang Anda ambil itu membawa kebaikan, syukuri. Jika salah, segera putar arah.

Be the best version of yourself. Berlomba melawan rasa malas, berkompetisi dengan diri sendiri, kenali apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan diri Anda. Saat ini Anda sedang berkompetisi dengan anak-anak muda yang usianya sama atau hampir sama dengan Anda di belahan dunia yang lain.

Dalam tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman mahasiswa tidak hanya mengejar IPK tertinggi tetapi juga memiliki kemampuan softskill dan hardskill yang perlu sama-sama ditingkatkan. Yuk berjuang sama-sama.  🙂

Apakah tulisan di atas bermanfaat? Jika iya, mohon bantu sebarkan melalui sosial media seperti Facebook, Twitter, Google Plus, LinkedIn, dan Path ke sesama mahasiswa yang masih aktif atau mahasiwa yang sedang ditingkat akhir, semoga bisa bermanfaat.

Jika Anda ingin mendapatkan tulisan dari saya setiap minggunya. Anda bisa daftarkan alamat email dan nama lengkap Anda pada kotak berlangganan artikel di bawah tulisan ini secara cuma-cuma. Dan saya akan kirimkan tulisan terbaru melalui email yang didaftarkan.