Bagaimana caranya agar seorang anak mau menjadikan orangtuanya sebagai sosok yang dapat dipercayainya sehingga apapun masalah yang dihadapi oleh seorang anak dia pasti cerita kepada orangtuanya?

Salah satu caranya adalah orangtua harus mampu menjadi sosok seperti sahabatnya ketika mereka berada di sekolah. Caranya bagaimana? Bisa dengan bermain dengan mereka atau bisa juga menjadi pendengar yang baik dari kisah mereka. Rata-rata orangtua karena memiliki kesibukan kerja misalnya. Terkadang suka menjadi pendengar yang buruk bagi keluh kesah seorang anak.

Biasanya yang terjadi adalah ketika seorang anak ingin bercerita tentang suatu hal yang dia alami di luar rumah. Tak jarang orangtua langsung memotong pembicaraan sang anak. Padahal mereka belum menyelesaikan pembicaraannya. Ada kisah menarik soal hal ini bagaimana terkadang terjadi perbedaan sudut pandang antara orangtua dan anak dalam melihat suatu peristiwa tertentu.

Alkisah pada hari akhir bulan desember yang berdekatan dengan pergantian tahun. Sebuah toko perbelanjaan baju dibilangan Kota Depok sedang melakukan promosi dan diskon besar-besaran untuk pakaian. Mendengar hal ini dari sahabat dekatnya Ibu Siti sangat semangat sekali untuk berbelanja pakaian di toko tersebut. Pada keesokan harinya Ibu Siti mengajak anaknya yang bernama Budi yang berusia 5 tahun untuk berbelanja. Ketika sampai di depan toko pakaian tersebut sudah terlihat banyak sekali iklan dan poster-poster yang menyatakan diskon besar-besaran hingga 90%! Akibatnya banyak ibu-ibu yang punya pemikiran yang sama dengan Ibu Siti untuk berbelanja pakaian di toko tersebut. Anaknya Budi awalnya bahagia ketika datang ke tempat tersebut, namun lama kelamaan Budi yang masih kecil menangis tatkala ibunya berbelanja pakaian.

Ibu Siti menjadi kebingungan mengapa anaknya menangis, sambil pilah-pilah baju yang ingin dibeli. Ibu Siti bertanya kepada anaknya: “Nak, kamu haus?” Budi menggelengkan kepalaanya. “Terus kamu kenapa nak?” Tanya Ibu Siti lanjut, sambil tetap mencari baju-baju yang diskon. Tangisan Budi pun semakin menjadi-jadi. Lalu Ibunya kembali bertanya: “Budi, bosan? Mau Ibu beliin mainan?”, kembali Budi menggelengkan kepalanya. Karena terus-terusan menangis. Akhirnya Ibu Siti mencoba bertanya kepada anaknya dengan cara dia mendekati Budi dengan berjongkok. Lalu pada saat yang sama. Ibu Siti baru menyadari satu hal bahwasannya ketika dia berada posisinya seperti Budi. Dia juga tidak merasa nyaman. Mengapa? Karena ada banyak kaki-kaki besar para ibu-ibu yang berbelanja dan hal ini sangat menakutkan. Alhasil Ibu Siti baru menyadari mengapa dari tadi Budi menangis setelah dia mencoba untuk menyamakan sudut pandang dari anaknya.

Nah dari kisah di atas kita bisa mengambil makna. Bahwsannya terkadang sudut pandang orangtua dan anak dalam melihat suatu permasalahan bisa berbeda. Orangtua dengan berbagai pengalamannya mungkin bisa berkata bahwa masalah yang dihadapi anaknya itu adalah masalah kecil, namun anaknya merasa itu adalah masalah yang besar.

Ketika anak merasa demikian. Maka orangtua perlu menjadi pendengar yang baik bagi anak tatkala mereka bercerita tentang permasalahan yang mereka hadapi. Ingat, kebiasaan memotong pembicaraan ketika anak berbicara itu kurang baik. Jika orangtua sering memotong pembicaraan anak yang terjadi mereka akan menjadi sungkan untuk bercerita.

Lalu apa yang harus orangtua lakukan jika seperti ini? Kembali lagi, orangtua harus menjadi pendengar yang baik. Dengarkan cerita anaknya hingga tuntas, lalu berikan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka dengan menunjukan sikap antusias terhadap apa yang mereka ceritakan. Hal inilah yang menjadikan anak menjadi merasa diharagai dan nyaman bercerita dengan orangtuanya. Apabila keterbukaan terjalin antara orangtua dan anak. Orangtuapun akan lebih mudah untuk mengawasi dan menjaga anaknya. Sudahkah Anda menjadi pendengar yang baik bagi anak Anda?