Berikut Ini Adalah Beberapa Kisah Terkait Mental Block

Pada artikel ini setidaknya saya akan berbagi tiga kisah mengenai bahaya dari mental block. Sebuah lintasan pemikiran yang ternyata dapat menghambat karir, kemampuan, dan bahkan kesuksesan Anda.

Ternyata mental block bisa berasal dari pola asuh orangtua yang salah loh. Terlalu memanjakan anak, terlalu ikut campur pada keputusan-keputusan kecil mereka, terlalu memberikan fasilitas ini itu.

Dan tidak sadar orangtua ternyata malah menjadikan anak berada di zona nyaman. Padahal learning zone berada di antara zona nyaman dan zona tidak nyaman.

Tiga kisah terkait mental block ini semoga dapat memberikan inspirasi untuk Anda:

1. Kisah Burung Dara yang Tidak Bisa Terbang

Sepasang buru dara yang lupa bagaimana caranya terbang

Sepasang buru dara yang lupa bagaimana caranya terbang

Kisah pertama tentang sepasang burung dara. Saya ingat waktu kelas tiga di sekolah dasar, orangtua saya memberikan hadiah berupa sepasang burung dara berwarna putih yang betina dan jantan yang berwarna hitam.

Karena burung dara ini masih liar, kemungkinan ia terbang dan tidak akan kembali ke sarang jika sayapnya tidak dijahit. Oleh karena itu, tetangga saya menjahit sayap kedua burung dara tersebut.

Setiap pagi dan sore saya rutin memberi makan, hari demi hari berganti. Saat ini kedua burung itu semakin jinak. Bahkan ketika saya buka kandangnya untuk memberi makan. Ia sudah berlomba-lomba menghampiri saya, yang pada tangan kanan saya ada sebuah kantong plastik berwarna hitam yang berisi jagung.

Kebetulan pada saat itu datang hari libur panjang sekolah. Salah satu dari paman saya mengajak liburan di Jawa Timur. Otomatis kakak saya yang SMP yang menggantikan saya untuk memberikan pakan burung.

Baca juga: 5 Kemampuan Dasar Parenting di Era Digital yang Harus Dimiliki oleh Pasangan Muda

Kantong plastik yang berwarna hitam yang biasanya diisi oleh biji jagung, saat itu kebetulan habis. Karena kakak saya tidak pernah memberikan pakan burung. Ia bingung, lantas mengganti pakan yang tadinya jagung menjadi nasi. Pada saat itu kakak saya berpikir simpel, daripada susah cari pakan burung mendingan menggantinya dengan nasi.

Saya liburan di salah satu kota di provinsi Jawa Timur selama kurang lebih empat belas hari. Karena tidak kunjung pulang dan pakan burung sudah habis. Kakak saya berinisiatif melepaskan jahitan benang pada sayap burung agar mereka mencari makan sendiri.

Setelah jahitan benang pada sayap dilepas, lantas mengapa mereka tidak kunjung terbang juga? Ini yang menjadi pertanyaan besar saya pada saat itu.

2. Menjinakan Gajah Liar Berbadan Besar dan Kuat Hanya dengan Seutas Tali Rafia

Menjinakan seekor gajah liar yang besar dan kuat hanya dengan seutas tali rafia

Menjinakan seekor gajah liar yang besar dan kuat hanya dengan seutas tali rafia

Salah satu mentor saya pernah bertanya kurang lebih seperti ini: “Bagaimana caranya menjinakan seekor gajah liar dengan badan besar dan kuat, hanya dengan seutas tali rafia?”.

Ada yang menjawab, paksa masukin ke dalam kandang besi. Lalu yang lain bilang, bius gajahnya dan ikat dengan tali rafia. Misalnya dimasukan ke dalam kandang besi, dengan badan sebesar dan sekuat itu saya yakin kandang besipun bisa hancur.

Lalu dibius, setelah bius hilang apakah gajah tidak akan berontak untuk melarikan diri? Apalagi hanya diikat dengan seutas tali rafia pasti putus begitu gajah berontak. Lalu caranya bagaimana?

Cara menjinakan gajah liar, betul bisa menggunakan bius, namun setelah dibius. Kaki-kaki dari gajah tadi ikat dengan sebuah rantai besi yang besar dan kuat pula, diikatkan pada sebuah paku beton yang tertanam kuat di permukaan tanah.

Baca juga: Batas Waktu Maksimal Fokus Seseorang

Ketika gajah mengamuk dan berusaha untuk melarikan diri. Biarkan saja. Karena ia tidak mungkin bisa melarikan diri dengan rantai kuat yang membelenggunya. Ketika sudah lelah, lalu si pawang memberikan gajah tadi makanan berupa sayuran, buah-buahan, dan rumput segar.

Karena sudah diberikan pakan oleh si pawang. Gajah liar tadi punya energi kembali. Dicobalah untuk kabur, tapi lagi-lagi jatuh karena kaki dari gajah terikat kuat pada sebuah rantai besi yang besar dan kuat juga. Begitu gajah lapar, setiap pagi dan sore si pawang memberikan makanan buah, sayur, dan rumput segar terbaik.

Setelah sekian lama mencoba kabur. Si gajah juga merasa diperlakukan baik oleh si pawang. Alhasil gajah tidak memiliki niatan lagi untuk melarikan diri. Lantas si pawang karena sudah tahu kalau si gajah sudah jinak. Ia mengganti rantai besi dengan seutas tali rafia. Apakah tali tersebut putus? Ternyata tidak. Kok bisa?

3. Piranha yang Tidak Mau Makan Ikan-ikan Kecil padahal Makanan Favoritnya Dulu

Ikan piranha yang tidak doyang dengan ikan-ikan kecil makanan favoritnya dulu kala. Kok bisa?

Ikan piranha yang tidak doyang dengan ikan-ikan kecil makanan favoritnya dulu kala. Kok bisa?

Ikan piranha ada salah satu hewan karnivora yang buas, hidup di sungai-sungai besar di Amerika Selatan. Salah seorang nelayan kebetulan berhasil menangkap satu ekor ikan piranha untuk dijadikan ikan peliharaan yang jinak.

Kok bisa ikan yang tadinya buas menjadi jinak? Jadi cara yang digunakan oleh nelayan untuk menjinakan ikan piranha ini cukup unik. Jadi awalnya ia membuat sebuah kolam ikan dan diberi dua sekat.

Sekat yang dibuat berbahan kaca bening yang tebal. Sisi bagian kiri diisi oleh ikan piranha dan di sisi yang lain diisi oleh ikan-ikan kecil makanan favorit dari ikan piranha.

Setiap kali ikan piranha lapar, otomatis ia akan berusaha menangkap dan memakan ikan yang berada di sisi lain dari kolam. Ketika ia mencoba, mentok. Coba lagi, mentok, dan dicoba lagi, lagi lagi mentok.

Baca juga: 7 Tips Persiapan Sebelum Berpergian Dengan Grup

Sudah lapar sekali. Lalu ikan piranha tadi diberikan makanan yang lain oleh si nelayan. Lapar lagi, ingin memangsa ikan kecil. Mentok lagi. Karena memang dipisahkan oleh sekat kaca transparan.

Hari demi hari berganti. Dan kerap kali setiap usaha untuk memakan ikan selalu dirasa mentok oleh ikan piranha. Lantas timbul rasa “menyerah” untuk menyantap ikan-ikan kecil tadi.

Lalu tanda-tanda ini dilihatlah oleh si nelayan. Dan nelayan tadi membuka batasan skat kaca yang dibuat sebelumnya. Ketika ikan piranha ini lapar. Apakah ia akan mencoba memakan ikan kecil tadi? Jawabannya tidak. Mengapa?

Jawaban dari Ketiga Pertanyaan Di Atas Adalah:

Ketiganya sudah sama-sama frustasi, lalu dalam kondisi yang gagal terus. Ia mendapatkan bantuan dari orang lain secara terus menerus juga. Sehingga membuat mereka berada di zona nyaman.

Karena sudah asik di zona nyaman dan aman, tanpa perlu susah terbang, melarikan diri, atau berusaha mengejar mangsa. Ia berpikir seseorang akan membantu dirinya untuk mendapatkan hal-hal mendasar dari kebutuhan mereka.

Mental block terkadang bisa berasal dari pola asuh orangtua yang terlalu sayang kepada anaknya. Sehingga hal-hal terkecil dari sebuah keputusan, perlu mereka sendiri yang memutuskan.

Alhasil anak tidak dapat mandiri dan lepas dari orangtua mereka. Orangtua seharusnya hanya sebagai pembimbing dan mentor. Izinkanlah anak memutuskan pilihan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Menurut Anda bagaimana cara menghilangkan mental block pada anak? Kirimkan komentar terbaik Anda melalui kotak komentar di bawah artikel ini.

Apakah tulisan ini bermanfaat? Jika iya. Mohon bantu bagikan tulisan ini di sosial media Facebook, Twitter, Google Plus, LinkedIn, dan Path ke teman-teman Anda.

Tidak ingin ketinggalan tulisan terbaru dari Dedeobi.com? Daftarkan nama lengkap dan alamat email Anda di kotak berlangganan yang ada dibawah tulisan ini.