Mendekati hari raya idul fitri ataupun hari raya lainnya biasanya terjadi peningkatan kasus krimal, terutama menjelang mudik. Beberapa kasus seperti pencurian, pembiusan, dan seterusnya banyak yang digeneralisir oleh orang awam dengan mengatasnamakan kejahatan-kejahatan tersebut sebagai kejahatan hipnotis atau hipnosis.

Pada artikel ini saya tidak akan membahas soal definisi dari hipnotis atau hipnosis itu sendiri, namun adakah suatu keilmuan yang disalah gunakan? Tentu saja ada! Ilmu layaknya pisau bermata dua, apabila dipergunakan untuk kebaikan akan mendatangkan kebermanfaatan sedangkan apabila dipergunakan untuk kejahatan akan mendatangkan kemudharatan.

Dalam melancarkan aksi kejahatan biasanya pelaku melakukan kejahatan tersebut secara bersama-sama atau berkelompok. Setiap orang dalam kelompok tersebut memiliki perannya masing-masing. Biasanya juga para penjahat telah memahami mekanisme kerja tingkah laku dan indra manusia agar memudahkan mereka dalam menyukseskan modus operasi kejahatan mereka. Berikut akan dibahas beberapa contoh kasus atas nama hipnotis yang sering terjadi di lingkungan kita.

1. Menepuk Pundak/Anggota Tubuh Korban

Dalam hal ini, pelaku kejahatan melakukan sentuhan-sentuhan kepada fisik dan emosional yang membawa korban memasuki kondisi hipnosis sehingga kesadaran normal dari korban menjadi hilang. Apabila dalam prosesnya menggunakan obat bius maka hal tersebut bukan termasuk di dalam proses hipnosis. Saat korban memasuki kondisi mudah untuk menerima sugesti. Pada saat itu pelaku kejahatan memasukan “sugesti penipuan”.

Sugesti penipuan tersebut yang membuat seolah korban menuruti maksud dan keinginan pelaku. Biasanya, penjahat melakukan pre-induction dengan bertanya hal-hal kecil seperti: “Maaf, pukul berapa sekarang?”, “Maaf, alamat ini ada di mana ya?” dan seterusnya. Bisakah kejahatan hipnosis ini dilakukan sendirian? Sebenarnya bisa tetapi akan memakan waktu yang lama dibandingkan dengan bekerja sama dengan kelompok.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sepertinya sering Anda dengar atau Anda sendiri sering bertanya hal tersebut kepada orang lain. Jangan terlalu parno (takut berlebihan), pelaku hipnotis tidak akan berhenti pada pertanyaan-pertanyaan di atas saja. Biasanya akan bertanya ke hal-hal yang lain guna mendekatkan diri dengan korban atau istilahnya building rapport guna memuluskan aksi kejahatan atas nama hipnosis ini. Kejahatan pada tipe pertama ini lebih menggunakan sugestivitas fisik ke arah “kinestetik”.

2. Menatap Mata Korban

Kasus berikutnya adalah dengan memanfaatkan kelelahan otot mata korban atau istilah lain pada kondisi ini pelaku memanfaatkan sugestivitas fisik korban ke arah “Visual”. Saat korban memasuki kondisi hipnosis, pada saat itulah sugesti penipuan diberikan oleh pelaku kepada korbannya.

Sugesti tersebut bisa diterima langsung oleh pikiran bawah sadar seseorang ataupun di tolak. Mengapa bisa ditolak? Sebenarnya penolakan bisa saja terjadi apabila nilai-nilai sugesti yang diberikan tidak sesuai dengan nilai yang tertanama di pikiran bawah sadar korban. Istilah lainnya adalah nilai sugesti bertentangan dengan keyakinan dari korban. Apakah pada saat melakukannya sang pelaku sendirian? Bisa iya, bisa juga tidak.

Kejahatan yang teroganisir akan jauh lebih berbahaya dibandingkan pelaku melakukan aksi sendirian. Sebenarnya hipnosis itu sendiri adalah seni komunikasi. Artinya tidak ada kaitannya dengan sesuatu hal yang bersifat magis atau mistik. Karena keilmuan psikologi sebenarnya sudah lama menggunakan hipnosis sebagai salah satu ilmu terapannya.

3. Menggunakan Media Telepon

Modus kejahatan seperti ini akhir-akhir ini sering bertambah, kecanggihan teknologi, ditambah merambahnya pengguna smart phone ternyata diikuti juga dengan kejahatan yang mengatasnamakan hipnosis. Pelaku memanfaatkan sugestiviatas fisik dari korbannya berfokus kepada “Audio”. Pelaku memanfaatkan penekanan-penekanan tertentu dengan ritme suara untuk memperdaya korban agar filter pikiran bawah sadar korban perlahan-lahan dibuat bingung (Miss Direction).

Dalam melancarkan aksinya, biasanya pelaku menggunakan beberapa tipe emosionalnya untuk pendekatan kepada korban. Beberapa topik yang dibahas biasanya tentang emosi gembira, emosi sedih, emosi menekan/menakuti, dan emosi yang memberi harapan/motivasi. Terkadang penjahat sudah lihai dalam menggunakan keempat tipe emosial tersebut secara bersamaan. Beberapa hari kedepan saya akan menuliskan bagaimana caranya untuk menghindari kejahatan hipnosis ini dengan self hypnosis.

Kesimpulannya, tidak semua kejahatan yang terjadi bisa diatas namakan dengan hipnosis. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa yang namanya ilmu memiliki dua mata yang berbeda. Artinya bisa dipergunakan untuk hal yang positif atau negatif. Dengan terus membaca atau mengenali modus-modus kejahatan akan membantu Anda untuk menghindari kejahatan itu sendiri.

Adapun pelatihan yang kami lakukan juga mempelajari bagaimana kejahatan hipnosis itu sendiri bisa terjadi. Dari pembaca sendiri apa pernah mendengar tentang kejahatan hipnosis itu sendiri? Sharing kepada kami pengalaman Anda tersebut dengan menuliskannya di kotak komentar di bawah artikel ini. 😀