Dahulu saya pernah menangani kasus pada saat menghipnoterapikan seorang anak remaja yang memiliki masalah dengan orangtuanya. Apa yang saya tuliskan di sini berdasarkan pengalaman pribadi saya menangani salah satu permasalahan anak remaja.

Usia remaja bisa dibilang adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada usia ini pula seorang anak belajar dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Bisa dibilang intensitas bertemu dengan dunia luar sudah semakin lebih tinggi dibandingkan pada masa kanak-kanak.

Pada kasus ini singkat cerita si Anak sangat mengidolakan sosok ayahnya, meskipun sang Ayah jarang pulang karena sering dinas di luar kota. Kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang membuat Ayahnya untuk jarang di rumah. Di sisi lain meskipun sang Ayah jarang di rumah namun apabila ketika sedang di rumah tak jarang sang Ayah membelikan mainan kepada anak berupa PS, komputer, dan seterusnya.

Kebetulan pada saat liburan sekolah sehabis ujian, sang Ayah sedang di rumah dan tidak dinas. Pada hari sabtunya akan ada pembagian rapot di sekolah. Sang Ayah menyempatkan diri untuk datang ke sekolah untuk mengambil rapot si anak. Sangat terkejut sekali sang Ayah melihat banyak nilai merah dan anak sering tidak masuk sekolah. Melihat menurunnya prestasi akademik di sekolah, sang Ayah sangat marah kepada anaknya.

Sehingga fasilitas yang sudah diberikan berupa PS, komputer, hp, dan seterusnya untuk sementara waktu tidak boleh dipergunakan. Sang Ayah mengira bahwa akar dari permasalahan tersebut adalah mainan elektronik yang sering dimainkan oleh si Anak. Nyatanya bukan hal tersebut yang membuat anak ini males sekolah, tetapi karena si Anak pernah berkelahi dengan temannya dan dimusuhi oleh beberapa temannya di sekolah.

Komunikasi yang jarang antara si Anak dan sang Ayah rupanya memberikan efek yang lebih buruk lagi. Sang Ayah mendapatkan panggilan dari kepala sekolah karena si Anak sering tidak masuk sekolah, pada saat yang sama Sang Ayah sedang berada di luar kota dan bela-belain datang untuk menghadiri panggilan dari sekolah. Di sisi lain, Sang Ibu telah membujuknya tetapi tetap si Anak tetap berangkat ke sekolah tetapi tidak sampai di sekolahan.

Mendapatkan teguran dari kepala sekolah Sang Ayah, sangat marah sekali. Sehingga emosi ketika sampai di rumah. Mungkin karena sedang karena ada permasalahan di kantor dan sedang dinas juga sehingga terpaksa harus pulang ke rumah demi si Anak. Sang Ayah mendaratkan tamparan ke pipi si Anak. Mulai saat itulah si Anak menjadi sangat minder dan pemalu sekali. Bukan, malah tambah rajin sekolah si Anak malah menjadi-jadi.

Si Anak menjadi tak dekat dengan keluarga, sering kabur dari rumah, dan bolos sekolahnya malah semakin kronis. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Si Anak pada dasarnya mengidolakan sang Ayah, tetapi akibat kekerasan yang mungkin tidak disengaja oleh sang Ayah karena emosi sesaat, hal tersebut menghancurkan rasa kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan si Anak dengan sosok idola yang dikaguminya tersebut.

Oleh karena itu pesan untuk seluruh orangtua. Jangan pernah memukul anak dengan alasan apapun guna mendidiknya lebih baik. Hindari pula perkataan sarkasme atau berkata kasar. Karena hanya dari didikan yang baiklah anak bisa menjadi sosok yang baik. Bergitu pula sebaliknya. Itu semua karena anak belajar dari kehidupannya.